Menteri Keuangan AS Scott Bessent Gandakan Buyback Obligasi di Tengah Gejolak Pasar
Ringkasan Pasar AI
Menteri Keuangan Bessent menggandakan pembelian kembali (buyback) Treasury berjangka panjang menjadi minimum $4 miliar per operasi mulai 9 September, yang sempat meredakan lonjakan imbal hasil tenor 30 tahun mendekati 5,27% sebelum imbal hasil kembali naik. Langkah ini menandakan kekhawatiran resmi tentang memburuknya fungsi pasar pada segmen ujung panjang, tetapi pendorong utamanya adalah penerbitan yang besar terkait dengan utang federal yang meningkat cepat. Tekanan kenaikan yang persisten pada imbal hasil jangka panjang dapat memperketat kondisi keuangan dan menilai ulang risiko durasi.
Level dampak
● Tinggi
Aset terdampak
NCSKTBTUSDT/USDT+1.24%
Wawasan AI · NCSKTBTUSDT/USDTWawasan AI
▼ Bearish
Trade sekarang
⚠️ Wawasan yang dihasilkan AI didasarkan pada konten berita dan disediakan untuk tujuan informasi saja. Wawasan ini bukan nasihat investasi dan tidak mencerminkan pandangan BingX. Investasi melibatkan risiko. Harap trade secara bertanggung jawab.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada 19 Agustus mengambil langkah terbesar yang pernah ia sampaikan ke publik sejak menjabat: menggandakan program pembelian kembali (buyback) untuk Treasury tenor panjang guna menopang likuiditas, menjadi minimal US$4 miliar per operasi.
Pasar obligasi sempat merespons positif, tetapi kepanikan cepat kembali. Imbal hasil (yield) Treasury 30 tahun sebelumnya melesat ke 5,27%—level tertinggi dalam 19 tahun—sebelum pengumuman. Setelah intervensi, yield sempat turun, tetapi keesokan harinya kembali ke sekitar 5,24%.
Program baru ini menyasar obligasi tenor 10 hingga 30 tahun dan dijadwalkan mulai 9 September. Dengan menaikkan nilai per operasi, Departemen Keuangan pada dasarnya memperbesar peran sebagai pembeli di segmen kurva imbal hasil yang selama ini paling kuat mengalami tekanan jual.
Bessent juga memberi sinyal ruang manuver lebih luas: batas bawah US$4 miliar bisa dilampaui, dan ia menyebut memiliki "perangkat" kebijakan yang besar.
Meski demikian, persoalan utamanya dinilai bukan sekadar likuiditas, melainkan besarnya kebutuhan pembiayaan pemerintah AS. Total utang nasional bruto menembus US$40,05 triliun pada 19 Agustus, naik dari US$39 triliun pada Maret. Kenaikan lebih dari US$1 triliun terjadi dalam waktu kurang dari setengah tahun.
Dari sisi pasokan, laju pertumbuhan utang memaksa Treasury menerbitkan obligasi baru dalam jumlah sangat besar. Tambahan pasokan umumnya menekan harga dan mendorong yield naik. Level 5,27% pada tenor 30 tahun menjadi penanda historis; terakhir kali setinggi ini, kondisi pasar sangat berbeda—sektor perumahan masih booming, iPhone belum ada, dan utang federal jauh lebih kecil dibanding sekarang.
Bessent belum merinci langkah tambahan yang dipertimbangkan. Opsi yang tersedia antara lain mengubah pola penerbitan dengan mengalihkan porsi pembiayaan ke tenor lebih pendek yang permintaannya lebih kuat, menaikkan lagi besaran buyback, atau menyelaraskan komunikasi dengan Federal Reserve untuk memberi sinyal koordinasi.
Pasar akan mencermati apakah Treasury menyesuaikan rencana refunding kuartalan agar penerbitan bergeser dari obligasi tenor panjang. Langkah itu dapat mengurangi pasokan surat utang 10 tahun dan 30 tahun yang masuk ke pasar, sehingga berpotensi meredakan tekanan kenaikan yield jangka panjang. Konsekuensinya, porsi penerbitan jangka pendek meningkat, yang memperbesar risiko rollover dan membuat biaya pinjaman pemerintah lebih sensitif terhadap pergerakan suku bunga dalam waktu dekat.
Periode beberapa pekan menjelang 9 September dinilai krusial. Jika yield terus merangkak naik sebelum program buyback yang diperluas berjalan, pasar kemungkinan mempertanyakan apakah minimal US$4 miliar per operasi cukup untuk menahan tekanan.