Harga minyak berpotensi kembali bergejolak usai serangan terhadap kapal niaga di Selat Hormuz

Ringkasan Pasar AI
Serangan baru terhadap pengapalan komersial di Selat Hormuz dan serangan lanjutan AS terhadap target Iran meningkatkan probabilitas gangguan pasokan dan transit pada titik sempit energi yang kritis. Lalu lintas kapal dilaporkan turun tajam dibandingkan level pra-konflik, sehingga memperbesar risiko ongkos angkut, asuransi, dan pengiriman. Dengan Brent sudah naik sekitar 5% dibandingkan level pra-konflik, meningkatnya risiko geopolitik dapat berujung pada volatilitas jangka dekat di seluruh minyak dan aset berisiko yang lebih luas.
Level dampak
● Tinggi
Aset terdampak
NCCO1OILBRENT2USD/USDT+3.16%
Wawasan AI · NCCO1OILBRENT2USD/USDTWawasan AI
▼ Bearish
Trade sekarang
⚠️ Wawasan yang dihasilkan AI didasarkan pada konten berita dan disediakan untuk tujuan informasi saja. Wawasan ini bukan nasihat investasi dan tidak mencerminkan pandangan BingX. Investasi melibatkan risiko. Harap trade secara bertanggung jawab.
ME News melaporkan bahwa pada 12 Juli (UTC+8), sebuah kapal komersial di Selat Hormuz kembali diserang pada Sabtu waktu setempat. Insiden itu mendorong Amerika Serikat melancarkan putaran serangan baru ke target-target Iran, memperuncing ketegangan di Timur Tengah dan berisiko memicu volatilitas besar pada harga minyak internasional setelah pasar dibuka pada Minggu. Data menunjukkan jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz per hari kini turun menjadi 22, jauh di bawah lebih dari 130 kapal per hari sebelum konflik. Brent pekan ini ditutup mendekati US$76 per barel, sekitar 5% lebih tinggi dibanding level pra-konflik. Menurut laporan tersebut, Iran bersikeras kapal niaga harus mengikuti rute yang ditetapkan di bawah kendalinya. Sementara itu, kapal-kapal yang memilih rute lebih dekat ke pesisir Oman di bawah pengawalan AS disebut masih menjadi sasaran serangan. Analis menilai, meski harga minyak masih jauh di bawah puncak masa perang yang hampir US$120 per barel, Iran kembali menunjukkan kemampuannya memengaruhi pasar energi global melalui aksinya di Selat Hormuz. (Sumber: BlockBeats)