SEC Setujui Jalur Sementara Perdagangan Saham Bertoken di Blockchain Publik

Ringkasan Pasar AI
Innovation Exemption dari SEC memungkinkan kerangka kerja berbasis izin dan berbatas waktu bagi saham A.S. yang ditokenisasi untuk diperdagangkan di blockchain publik, meringankan beban pendaftaran bursa sambil tetap menempatkan token sepenuhnya dalam aturan sekuritas. Ini merupakan sinyal yang konstruktif bagi infrastruktur pasar modal onchain serta rel kustodian/penyelesaian yang patuh, meskipun pertanyaan yurisdiksi bergaya CLARITY yang lebih luas dan isu pajak masih belum terselesaikan. Pembatasan ketat pada volume, simbol, dan leverage membatasi dampak sistemik dalam jangka dekat.
Level dampak
● Tinggi
Aset terdampak
BTC/USDT+0.76%
Wawasan AI · BTC/USDTWawasan AI
▲ Bullish
Trade sekarang
⚠️ Wawasan yang dihasilkan AI didasarkan pada konten berita dan disediakan untuk tujuan informasi saja. Wawasan ini bukan nasihat investasi dan tidak mencerminkan pandangan BingX. Investasi melibatkan risiko. Harap trade secara bertanggung jawab.
Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) membuka jalur sementara agar saham bertoken (tokenized shares) dapat diperdagangkan di blockchain publik. Langkah ini muncul tak lama setelah Senat gagal meloloskan CLARITY Act, sehingga SEC dapat menguji sebagian agenda kripto yang tertahan tanpa menunggu undang-undang baru. Lewat skema "Innovation Exemption", pengguna yang disetujui dapat memperdagangkan versi berbasis blockchain dari saham yang tercatat di bursa AS. Token tersebut harus membawa hak dasar yang sama seperti saham konvensional, termasuk hak suara, hak dividen, serta hak atas sisa aset perusahaan saat likuidasi. Perdagangan juga dapat berlangsung di luar jam bursa dengan penyelesaian (settlement) yang dipercepat. Investor berpotensi menyimpan token di dompet digital yang memenuhi syarat, bukan hanya di rekening sekuritas pada broker. Meski memakai blockchain publik, mekanisme ini bukan pasar DeFi terbuka. Partisipan wajib memperoleh persetujuan dari operator, serta mematuhi sanksi dan ketentuan regulasi. Perusahaan berhak menghentikan pihak ketiga yang tidak terkait untuk melakukan tokenisasi atas sahamnya. Perdagangan harus dihentikan jika saham dasarnya terkena penghentian perdagangan (halt). Pengecualian ini juga melarang penawaran saham perdana, transaksi margin, dan bentuk perdagangan berbasis pinjaman lainnya. Pembatasan skala diberlakukan. Saham AS berkapitalisasi besar dibatasi hingga 75 simbol, dengan plafon volume 0,25% dari rata-rata volume harian bulan sebelumnya. Untuk saham yang kurang aktif diperdagangkan, batasnya 250 simbol dengan plafon volume 2,5%. Tidak ada tempat perdagangan yang dapat langsung memulai; operator harus mempublikasikan informasi rinci setidaknya 30 hari sebelum peluncuran. Kebijakan SEC ini mengeksekusi bagian sempit dari CLARITY yang gagal, khususnya prinsip bahwa menempatkan saham di blockchain tidak mengubah statusnya sebagai sekuritas. Selaras dengan itu, tokenized shares tetap diperlakukan sebagai sekuritas, sementara fasilitas yang memperdagangkannya memperoleh kelonggaran sementara dari kewajiban mendaftar sebagai bursa konvensional. Perintah SEC ini tidak menggantikan CLARITY dan tidak menyelesaikan isu besar lain, seperti pembagian kewenangan antara SEC dan CFTC atas aset kripto, aturan permanen untuk bursa kripto, atau dampaknya terhadap regulasi DeFi. Ketentuan ini dijadwalkan berakhir pada 17 September 2031, kecuali SEC mengubahnya lebih awal. Aspek pajak juga tidak dibahas. Digital Asset Tax Certainty Act berpotensi memberi kejelasan atas perlakuan stablecoin yang digunakan untuk membeli saham bertoken tersebut. Ringkasnya, SEC menyetujui eksperimen lima tahun untuk memungkinkan perdagangan saham AS bertoken secara permissioned, membawa maju satu bagian dari agenda CLARITY yang macet, sementara kerangka regulasi dan perpajakan yang lebih luas masih belum tuntas.