SEC Usulkan Aturan Baru Kripto: Penjualan Token di Bawah US$5 Juta Berpotensi Bebas Registrasi

Ringkasan Pasar AI
Rancangan "Regulation Crypto Assets" dari SEC memperkenalkan pengecualian pendaftaran (hingga $5M selama empat tahun dan hingga $75M per tahun) serta safe harbor bersyarat bagi token untuk 'melepaskan diri' dari status kontrak investasi setelah upaya manajerial berakhir. Hal ini akan menurunkan friksi penerbitan dan pencatatan serta meningkatkan kejelasan regulasi di tengah mandeknya aksi kongres, yang berpotensi mendukung selera risiko yang lebih luas di seluruh kripto, terutama altcoin, selama periode komentar.
Level dampak
● Tinggi
Aset terdampak
BTC/USDT+7.81%
Wawasan AI · BTC/USDTWawasan AI
▲ Bullish
Trade sekarang
⚠️ Wawasan yang dihasilkan AI didasarkan pada konten berita dan disediakan untuk tujuan informasi saja. Wawasan ini bukan nasihat investasi dan tidak mencerminkan pandangan BingX. Investasi melibatkan risiko. Harap trade secara bertanggung jawab.
Pada 18 Agustus waktu setempat Amerika Utara, Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) merilis rancangan aturan baru bertajuk "Regulation Crypto Assets". Proposal ini menyiapkan kerangka khusus untuk penerbitan kontrak yang melibatkan aset kripto, dan menjadi langkah substansial paling besar sejak Ketua SEC Paul Atkins menjabat. Langkah tersebut juga dipandang sebagai upaya SEC membangun jalur regulasi sementara di tengah mandeknya proses legislasi "CLARITY Act" di Kongres. Inti proposal: dua pengecualian registrasi dan satu safe harbor Dalam rilis resminya, SEC menyebutkan "Regulation Crypto Assets" memuat dua pengecualian terhadap kewajiban registrasi berdasarkan Section 5 Securities Act 1933, ditambah aturan safe harbor bersyarat. Dua pengecualian ini membuka ruang bagi penerbit altcoin untuk menghimpun dana tanpa proses registrasi penuh, selama memenuhi ketentuan. 1) Startup Exemption Proyek tahap awal diperbolehkan menghimpun dana hingga US$5 juta secara total dalam periode maksimal empat tahun tanpa menjalani proses registrasi penuh. Penerbit cukup menyampaikan pengungkapan naratif berbasis prinsip (principle-based narrative disclosures), sehingga prosesnya lebih menyerupai penyampaian pemberitahuan (notice-based filing). 2) Fundraising Exemption Penerbit dapat menghimpun dana hingga US$75 juta dalam periode 12 bulan. Kerangkanya banyak mengacu pada struktur Regulation A+ yang sudah ada, dengan dua tingkatan (tiers). Penerbit wajib menyerahkan laporan keuangan yang diaudit dan menjalankan kewajiban pelaporan berkelanjutan, selain pengungkapan naratif. SEC menegaskan, penerbit dalam kedua skema tersebut tetap tunduk pada ketentuan anti-penipuan dan anti-manipulasi dalam hukum sekuritas federal. Secara praktis, penerbit token dapat memilih pengecualian sesuai besaran target dana: pendanaan kecil tahap awal (maksimal US$5 juta dalam empat tahun) cukup dengan uraian proyek berbahasa jelas tanpa laporan keuangan audit; sementara penggalangan yang lebih besar (hingga US$75 juta per tahun) mewajibkan audit serta pelaporan berkala pasca-penggalangan. Dalam bingkai ini, penerbitan altcoin di AS diposisikan memiliki jalur kepatuhan yang "legal" dan lebih terstruktur. 3) Investment Contract Safe Harbor: token dapat "lepas" dari status sekuritas Proposal ini juga memperkenalkan safe harbor untuk "investment contract". Jika penerbit telah menyelesaikan atau menghentikan secara permanen "essential managerial efforts" yang sebelumnya dijanjikan kepada investor, aset kripto terkait dapat diperlakukan tidak lagi memenuhi definisi "investment contract". Artinya, token bisa terlepas dari karakteristik sekuritasnya. SEC menggambarkan logikanya sebagai berikut: pada awal penerbitan, token bisa dipandang sebagai sekuritas karena investor mengandalkan janji tim proyek untuk bekerja membangun nilai (misalnya mengembangkan, memelihara, dan mengoperasikan jaringan). Ketika janji upaya manajerial itu telah dipenuhi, atau tim benar-benar berhenti secara permanen (misalnya bubar atau meninggalkan pengembangan), ekspektasi wajar investor terhadap upaya lanjutan tim ikut hilang. Pada titik itu, perdagangan dan transfer token dapat tidak lagi diperlakukan sebagai transaksi sekuritas, sehingga kebutuhan registrasi maupun pembatasan seperti lock-up menjadi tidak relevan dan bursa dapat melakukan listing dengan lebih leluasa. Di dalam dokumen, SEC juga mendefinisikan istilah baru "covered investment contract" dengan cakupan ketat: (1) melibatkan aset kripto tertentu; (2) aset kripto itu sendiri bukan sekuritas; (3) kontrak investasi tersebut tidak melibatkan aset lain selain aset kripto tersebut (baik sekuritas maupun non-sekuritas). Pembatasan ini dimaksudkan agar pengecualian dan safe harbor hanya berlaku untuk skenario penerbitan kripto yang sempit, bukan untuk "securities" atau "digital securities" (sekuritas yang ditokenisasi). Preemption terhadap aturan negara bagian dan redefinisi "qualified purchaser" Proposal juga memuat redefinisi "qualified purchaser" yang akan membebaskan sekuritas yang diterbitkan di bawah "Regulation Crypto Assets", serta transaksi pasar sekunder terkait, dari kewajiban registrasi dan kualifikasi berdasarkan hukum sekuritas negara bagian (federal preemption). Latar belakang: kebuntuan CLARITY Act dan rangkaian langkah kebijakan sejak 2025 SEC mengaitkan kebutuhan aturan baru ini dengan kelemahan pendekatan lama yang bertumpu pada Howey test (putusan Mahkamah Agung 1946). Menurut SEC, Howey kurang cocok untuk aset kripto yang hak dan karakteristiknya berevolusi dari waktu ke waktu. Selain itu, kewajiban pengungkapan yang ada (misalnya Regulation S-K dan Form 1-A) sering tidak selaras dengan informasi yang paling dicari investor kripto seperti tokenomics, mekanisme tata kelola jaringan, dan keamanan source code. Karena itu, proposal merancang Rule 103 yang menekankan "principle-based disclosure requirements". Proposal ini juga hadir saat proses legislasi macet. "CLARITY Act" yang lama dianggap sebagai "solusi final" bagi industri kripto, tersendat di Senat sejak awal tahun: mulai dari perbedaan kepentingan antara sektor kripto dan perbankan terkait insentif stablecoin hingga kontroversi etika mengenai potensi konflik kepentingan mantan Presiden Trump atas aset kriptonya. Di Polymarket, probabilitas kontrak "CLARITY Act menjadi undang-undang pada 2026" turun dari hampir 82% pada Februari ke kisaran 18%21% pada pertengahan Agustus. Walau Pemimpin Mayoritas Senat mengajukan cloture motion pada 8 Agustus dan menetapkan 15 September sebagai tanggal pemungutan suara prosedural, langkah itu membutuhkan 60 suara setuju. Dengan komposisi kursi Partai Republik saat ini, dibutuhkan sekitar 10 senator Demokrat untuk berpihak, yang dinilai sulit. Penasihat kebijakan kripto Gedung Putih Patrick Witt, dalam konferensi SALT, menyatakan pemerintah "memberi Senat dan Kongres kesempatan luas" tetapi "tidak akan menunggu tanpa batas". Jika jendela legislasi September tidak menghasilkan, regulator akan melangkah sendiri menyusun aturan. "Regulation Crypto Assets" diposisikan sebagai implementasi konkret dari sikap tersebut, memanfaatkan kewenangan rulemaking dan pemberian pengecualian yang sudah dimiliki SEC. Rangkaian peristiwa kebijakan yang disebut terkait: - Januari 2025: Donald Trump menandatangani executive order "Strengthening U.S. Leadership in Digital Financial Technologies" dan membentuk President's Digital Assets Market Task Force. - Awal 2025: SEC membentuk Crypto Task Force yang dipimpin Komisaris Hester Peirce dan menghimpun masukan publik, menerima lebih dari 300 surat komentar. - Juli 2025: Presidential Working Group merilis laporan yang merekomendasikan SEC menggunakan kewenangan rulemaking dan exemption untuk membuat pengecualian registrasi yang disesuaikan, safe harbor berbatas waktu, serta pengecualian spesifik untuk "airdrops" terkait penawaran sekuritas aset digital. Atkins kemudian mengumumkan inisiatif "Project Crypto". - 17 Maret 2026: SEC dan CFTC menerbitkan "2026 Interpretive Guidance" yang mengelompokkan aset kripto menjadi lima kelas: digital commodities, digital collectibles, digital tools, stablecoins, dan digital securities, sekaligus memperjelas kriteria kapan aset non-sekuritas "masuk" atau "keluar" dari definisi investment contract. Panduan ini disebut sebagai fondasi teoritis langsung bagi proposal saat ini. - 18 Agustus 2026: "Regulation of Crypto Assets" dipublikasikan sebagai proposal dan memasuki masa komentar publik 60 hari. Jadwal dan tahapan berikutnya Aturan ini masih berupa proposal dan belum berlaku. Tahapan yang dicantumkan: - 18 Agustus 2026: SEC merilis proposal, File No. S7-20-26-27. - Dalam 60 hari setelah publikasi: periode komentar publik dibuka; komentar dapat disampaikan melalui situs resmi SEC atau email. Tenggat final ditetapkan setelah proposal terbit di Federal Register. - Setelah masa komentar berakhir: SEC meninjau dan menanggapi komentar substantif sebelum memutuskan apakah akan mengadopsi aturan final dan dalam bentuk revisi seperti apa ("adopting release"). Tidak ada batas waktu statutoris; secara historis proses dapat memakan waktu beberapa bulan hingga lebih dari satu tahun. - November 2026: Hester Peirce berencana meninggalkan SEC, yang dapat memengaruhi momentum internal dorongan kerangka ini. Kesimpulannya, meski proposal ini menawarkan jalur pengecualian yang lebih operasional untuk penerbitan token di AS, pemberlakuannya masih menunggu konsultasi publik, revisi, dan persetujuan formal. Di saat yang sama, nasib "CLARITY Act" tetap tidak pasti. Untuk industri kripto, lingkungan regulasi penerbitan aset kripto di Amerika Serikat diperkirakan masih berada dalam fase transisi, dengan persaingan antara jalur rulemaking regulator dan proses legislasi yang belum menemui titik terang.