Pengguna Kanada Menyumbang 25% dari Kerugian Eksploit Coldcard
Ringkasan Pasar AI
Laporan mengenai eksploit dompet perangkat keras Coldcard dengan aset curian senilai $116M, yang ditelusuri ke implementasi RNG firmware yang cacat pada Maret 2021, menegaskan risiko self-custody dan rantai pasok yang terus bertahan. Kerugian yang terkonsentrasi di kalangan pengguna Kanada menyoroti paparan yang spesifik pada ekosistem, sementara narasi "silent failure" menantang asumsi tentang keamanan offline. Dampak jangka dekat bersifat negatif bagi sentimen risiko pada infrastruktur self-custody dan dapat meningkatkan permintaan untuk pengaturan multisig/MPC.
Level dampak
● Sedang
Aset terdampak
BTC/USDT+0.38%
Wawasan AI · BTC/USDTWawasan AI
▼ Bearish
Trade sekarang
⚠️ Wawasan yang dihasilkan AI didasarkan pada konten berita dan disediakan untuk tujuan informasi saja. Wawasan ini bukan nasihat investasi dan tidak mencerminkan pandangan BingX. Investasi melibatkan risiko. Harap trade secara bertanggung jawab.
Pemegang Bitcoin di Kanada menjadi kelompok paling terdampak dalam kasus eksploit pada dompet perangkat keras Coldcard. Mereka menanggung sekitar 25% dari total kerugian yang dapat diatribusikan, seiring total aset yang dicuri mencapai US$116 juta.
Konsentrasi kerugian di Kanada dinilai selaras dengan jejak pasar yang kuat dari perusahaan induk Coldcard, Coinkite, yang bermarkas di Toronto. Berdasarkan pelacakan visual Chainalysis, Australia menempati posisi kedua dengan porsi kerugian sekitar 15% hingga 20%. Amerika Serikat dan Thailand menyusul dengan kisaran 10% hingga 15%.
Meski yurisdiksi berbahasa Inggris dan pasar Bitcoin yang lebih awal mengadopsi teknologi ini tampak paling terpukul, dampaknya meluas secara global, mencakup Eropa Barat, Amerika Latin, serta pusat kripto utama di Afrika seperti Nigeria dan Afrika Selatan.
Galaxy Research menelusuri akar masalah ke pembaruan firmware pada Maret 2021, tepatnya saat penerapan generator angka acak (random number generator/RNG) baru. Menurut Galaxy, RNG tersebut terhubung secara keliru dan justru kembali menggunakan opsi yang lebih lemah tanpa peringatan. Akibatnya, pengguna tidak menyadari kunci privat mereka dibuat dengan entropi rendah. Galaxy menyebut bahwa lima tahun setelahnya, pelaku menyapu sekitar US$70 juta dari 1.200 dompet hanya dalam 41 menit.
Natalie Newson, Senior Blockchain Investigator di CertiK, menjelaskan mengapa bug bisa lolos dari pemeriksaan standar selama lebih dari lima tahun. Sumbernya adalah kesalahan konfigurasi spesifik: MICROPY_HW_ENABLE_RNG disetel ke nol. Menurut Newson, bagi pemeriksaan statis yang mengecek #ifndef, makro yang diset ke 0 tetap dianggap "terdefinisi". Alhasil, pemeriksaan keselamatan bernilai benar, penjaga #error teredam, dan sistem build berjalan seolah konfigurasi sudah tepat.
Untuk mencegah "fallback" senyap ke pseudorandomness berbasis perangkat lunak, Newson mendorong produsen merombak standar arsitektur. Ia menilai kontrol terkuat adalah menghapus opsi fallback dari produksi dan hanya mengizinkan satu penyedia RNG yang disetujui. Rantai proses dari pengambilan entropi hingga pembentukan seed juga, kata Newson, harus sepenuhnya berada dalam batas validasi yang didefinisikan NIST FIPS 1403.
Dalam penanganan insiden saat pembaruan darurat harus digulirkan di tengah "sweep" otomatis yang masih aktif, Newson menekankan respons insiden perlu memprioritaskan komunikasi kepada pengguna selain pengujian teknis. Perusahaan, menurutnya, harus segera menjelaskan cakupan kerentanan, mengidentifikasi pengguna terdampak, serta memberi panduan mitigasi yang jelas, sembari memvalidasi perbaikan secara menyeluruh sebelum rilis. Transparansi dinilai sama pentingnya dengan patch itu sendiri.
Bagi pengguna nonteknis yang khawatir perangkat "brick" saat pembaruan firmware darurat, Newson merekomendasikan protokol remediasi ketat. Pertama, dapatkan dompet perangkat keras tepercaya, buat seed phrase baru secara offline, lalu verifikasi dengan transaksi uji bernilai kecil. Setelah itu, pindahkan seluruh sisa dana ke pengaturan baru yang sudah terverifikasi, barulah mencoba pembaruan firmware pada perangkat lama. Ia juga menyarankan mengurangi single point of failure dengan membagi risiko menggunakan dompet perangkat keras dari produsen berbeda di beberapa akun.
Insiden ini turut memicu evaluasi ulang narasi self-custody. Para pengkritik menilai pengurasan mendadak atas dana yang lama tidak bergerak menunjukkan bahwa eksekusi offline saja tidak menjamin perlindungan absolut. Nanak Nihal Khalsa, co-founder Human.tech, menilai kasus ini menegaskan risiko pihak ketiga tetap ada dalam ekosistem perangkat keras. Menurutnya, slogan "Not your keys, not your coins" kerap mengabaikan fakta bahwa kepercayaan tetap "dialihdayakan", bahkan dalam self-custody, dan vektor ancaman baru seperti eksploit berbantuan AI berpotensi memperparah risiko.
Newson juga menyoroti risiko konfigurasi single-signature (singlesig). Ia menilai adopsi arus utama membutuhkan sistem dengan "graceful degradation", sehingga satu kesalahan—oleh pengguna maupun vendor—tidak langsung menghapus tabungan seumur hidup. Dalam skema singlesig, kata Newson, tidak ada ruang toleransi kesalahan karena pengguna menggantungkan kepercayaan pada perangkat fisik, kode, seluruh dependensi, serta proses QA.
Karena itu, konsensus industri mulai bergeser menuju pengaturan multivendor, multisignature, atau threshold signature (MPC) sebagai baseline. Tujuannya adalah beralih dari "memercayai satu perangkat" menjadi memastikan tidak ada satu komponen atau aktor yang dapat memindahkan dana sendirian. Dalam praktiknya, kunci penandatanganan atau porsi threshold perlu tersebar pada domain kegagalan organisasi dan teknologi yang independen, sehingga tidak ada satu penyedia pun yang dapat merekonstruksi kunci atau mengotorisasi transaksi secara unilateral.