Pilot Tokenisasi DTCC Libatkan BlackRock dan Goldman, Saham Microsoft hingga Obligasi AS Dipindahkan On-Chain
Ringkasan Pasar AI
Uji coba tokenisasi DTCC bersama institusi besar (mis., BlackRock, Goldman, JPMorgan) menempatkan saham ekuitas papan atas dan obligasi pemerintah AS (termasuk saham Microsoft dan ETF utama) ke dalam rel blockchain sambil tetap mempertahankan sepenuhnya hak pemegang saham. Sebagai infrastruktur inti pasca-perdagangan AS, layanan DTCC yang direncanakan pada Oktober secara material mengurangi ketidakpastian hukum dan operasional seputar sekuritas yang ditokenisasi, mempercepat adopsi institusional, meskipun pilihan blockchain dan persetujuan regulasi tetap menjadi kendala utama dalam jangka dekat.
Level dampak
● Tinggi
Aset terdampak
NCSKMSFT2USD/USDT+2.72%
Wawasan AI · NCSKMSFT2USD/USDTWawasan AI
▲ Bullish
Trade sekarang
⚠️ Wawasan yang dihasilkan AI didasarkan pada konten berita dan disediakan untuk tujuan informasi saja. Wawasan ini bukan nasihat investasi dan tidak mencerminkan pandangan BingX. Investasi melibatkan risiko. Harap trade secara bertanggung jawab.
Lembaga kliring sekuritas AS, DTCC, memulai proyek percontohan tokenisasi yang melibatkan hampir 40 perusahaan jasa keuangan dan penyedia teknologi untuk memindahkan saham-saham unggulan serta obligasi pemerintah ke infrastruktur blockchain. Laporan WuBlockchain menyebut aset dalam pilot ini mencakup saham Microsoft Corp., Invesco QQQ Trust Series 1, SPDR S&P 500 ETF Trust, ETF Treasury jangka pendek, serta obligasi pemerintah AS dengan berbagai tenor.
Daftar pesertanya mencerminkan pelaku utama Wall Street: BlackRock, JPMorgan Chase, Goldman Sachs, Vanguard, dan New York Stock Exchange termasuk pihak yang menguji teknologi tersebut. DTCC menargetkan peluncuran layanan tokenisasi secara resmi pada Oktober.
DTCC menegaskan versi token memiliki hak kepemilikan, dividen, dan tata kelola yang sama seperti sekuritas dasarnya. Artinya, DTCC tidak membuat instrumen baru, melainkan membangun ulang proses penyelesaian transaksi dan kustodian di atas buku besar yang dapat diprogram. Bagi pelaku institusional yang selama ini mengandalkan DTCC sebagai "pipa utama" untuk sekitar US$1,8 kuadriliun transaksi sekuritas per tahun, pendekatan ini mengurangi ketidakpastian hukum yang kerap membuat keuangan tradisional menjaga jarak dari tokenisasi.
DTCC mengoperasikan infrastruktur settlement dan kustodian inti untuk saham AS, obligasi korporasi, serta surat utang pemerintah. Karena DTCC menaungi National Securities Clearing Corporation dan The Depository Trust Company, langkah masuk lebih dalam ke tokenisasi memberi sinyal yang berbeda dibanding uji coba fintech atau platform penerbitan kripto. Ini menunjukkan lapisan pascatransaksi sedang dirombak, dengan akses langsung ke jaringan broker-dealer dan kustodian yang menangani volume harian bernilai triliunan dolar.
Pilot ini juga muncul ketika tokenisasi aset dunia nyata (real-world assets/RWA) kian cepat. Dalam ringkasan mingguan tokenisasi terbaru, nilai gabungan RWA yang sudah on-chain menembus US$20 miliar, dengan pergerakan besar dari Bullish dan Ondo Finance bersama JPMorgan. Keterlibatan DTCC menambah kredibilitas setara infrastruktur pasar yang sulit dicapai hanya lewat inisiatif sektor swasta.
Sejumlah hal masih belum jelas menjelang target Oktober. DTCC belum mengungkap jaringan blockchain yang akan digunakan, apakah buku besar tersebut bersifat permissioned, serta bagaimana finalitas konsensus akan memenuhi kebutuhan kecepatan settlement dalam jam perdagangan yang berlaku. Aspek perizinan regulator juga menjadi variabel; peluncuran layanan memerlukan persetujuan SEC dan otoritas lain, sementara proposal tokenisasi sebelumnya kerap membutuhkan waktu lebih lama dari perkiraan untuk melewati hambatan kepatuhan.
Ada pula persoalan struktur pasar. Secara teknis, saham bertoken dapat diselesaikan dalam hitungan menit atau detik, tetapi pemendekan siklus settlement lebih jauh dari T+1 memunculkan pertanyaan soal margin, likuiditas, dan kolateral yang baru mulai dimodelkan oleh desk margin dan prime broker. Uji sesungguhnya adalah apakah manajer aset besar dan market maker benar-benar mengalokasikan neraca untuk posisi tokenisasi berdampingan dengan portofolio tradisional.
Di sisi lain, lomba tokenisasi berlangsung beriringan dengan sikap keras lobi perbankan terhadap regulasi kripto di Kongres. Menurut laporan terpisah dari BlockchainReporter, bank-bank berupaya menghambat rancangan undang-undang yang akan membentuk kerangka regulasi aset digital. Kontras ini menonjol: institusi yang diam-diam merapikan settlement T-bill bertoken, pada saat yang sama menolak aturan yang berpotensi memberi kepastian bagi pasar kripto yang lebih luas.
Apakah peluncuran Oktober DTCC akan menjadi catatan kecil atau awal pergeseran struktural bergantung pada dukungan kustodian, kejelasan regulator, serta kemampuan buku besar dasar menangani finalitas settlement dalam skala besar. Untuk saat ini, sinyal terbesarnya jelas: lembaga kliring inti pasar AS tidak lagi sekadar mengamati tokenisasi—DTCC mulai memasang pipa-pipanya.