Strategy Umumkan Kerangka Modal Baru, Arah Pembelian Bitcoin Masih Jadi Tanda Tanya
Ringkasan Pasar AI
CryptoQuant berpendapat bahwa "Digital Credit Capital Framework" baru milik Strategy mengurangi risiko likuiditas jangka dekat melalui cadangan USD yang dibatasi, dividen STRC yang lebih tinggi, dan otorisasi pembelian kembali, sekaligus memungkinkan hingga $1.25B potensi penjualan BTC. Penjualan BTC dan penerbitan ekuitas perusahaan baru-baru ini secara material meningkatkan cakupan dividen, tetapi ketidakpastian masih tersisa seputar akumulasi kembali BTC berbasis aturan dan penjualan yang disiplin pada fase bull, sehingga menahan kepercayaan pasar.
Level dampak
● Sedang
Aset terdampak
BTC/USDT+0.67%
Wawasan AI · BTC/USDTWawasan AI
● Netral
Trade sekarang
⚠️ Wawasan yang dihasilkan AI didasarkan pada konten berita dan disediakan untuk tujuan informasi saja. Wawasan ini bukan nasihat investasi dan tidak mencerminkan pandangan BingX. Investasi melibatkan risiko. Harap trade secara bertanggung jawab.
Perusahaan analitik onchain CryptoQuant menilai kerangka manajemen modal baru yang diumumkan Strategy membantu meredakan kekhawatiran likuiditas jangka pendek. Meski begitu, CryptoQuant menekankan perusahaan masih perlu aturan yang lebih disiplin untuk kapan membeli dan menjual Bitcoin.
Dalam laporan yang dipublikasikan Direktur Riset CryptoQuant, Julio Moreno, rencana baru bertajuk "Digital Credit Capital Framework" disebut sebagai perubahan arah yang signifikan. Moreno menilai ini merupakan koreksi strategi, tetapi belum tuntas tanpa dua hal: model sistematis untuk menentukan waktu pembelian Bitcoin serta kerangka penjualan yang disiplin saat pasar berada dalam fase bullish.
Strategy mengumumkan kerangka lima bagian tersebut pada 29 Juni. Salah satu poin utama adalah pembentukan cadangan dolar AS yang hanya boleh dipakai untuk pembayaran dividen saham preferen dan pembayaran bunga. Perusahaan menargetkan cadangan itu mampu menutup kewajiban pembayaran setidaknya 12 bulan.
Strategy juga menaikkan tingkat dividen saham preferen STRC menjadi 12% dengan peninjauan bulanan. Langkah ini ditujukan untuk mendorong harga STRC mendekati nilai nominalnya, US$100.
Kerangka baru tersebut memberi ruang bagi perusahaan untuk membeli kembali hingga US$1 miliar saham preferen jika manajemen menilai aksi itu menambah nilai, dengan STRC diprioritaskan. Strategy juga dapat membeli kembali hingga US$1 miliar saham biasa MSTR pada periode ketika saham dinilai undervalued.
Selain itu, Strategy membentuk program pencairan Bitcoin yang mengizinkan penjualan hingga US$1,25 miliar Bitcoin. Dana hasil penjualan dapat digunakan untuk memperkuat cadangan dolar, membiayai dividen dan bunga, serta mendanai buyback saham.
Perusahaan juga menyatakan akan lebih berhati-hati menerbitkan saham ketika indikator mNAV (rasio market value/net asset value) mendekati level 1.
Pengumuman ini muncul hanya beberapa hari setelah CryptoQuant merilis rekomendasi untuk Strategy. Saat itu, CryptoQuant mendorong Strategy menunda pembelian Bitcoin sampai cadangan kas dan rasio cakupan dividen menguat, menyusun model penentuan waktu pembelian Bitcoin, serta menyiapkan rencana penjualan sebagian aset saat bull market.
Moreno menyebut Strategy pada dasarnya sudah mengikuti rekomendasi pertama. Pada 29 Juni hingga 5 Juli, Strategy menjual sekitar 3.588 BTC dan meraih pendapatan sekitar US$216 juta. Dana itu digunakan untuk membayar dividen saham preferen dan memperkuat cadangan dolar.
Pada 6–12 Juli, Strategy menghimpun US$466,7 juta dari penjualan saham MSTR. Pada periode ini perusahaan tidak melakukan pembelian maupun penjualan Bitcoin.
Setelah langkah-langkah tersebut, cadangan dolar Strategy naik dari US$1,44 miliar menjadi US$3 miliar. Periode cakupan dividen turut memanjang dari sekitar 14 bulan menjadi 29 bulan. Kepemilikan Bitcoin tetap 843.775 BTC, dan hingga kini perusahaan belum melakukan buyback saham preferen maupun saham biasa.
Saham STRC sempat turun ke level terendah sepanjang masa sekitar US$75 pada akhir Juni. Setelah pengumuman kerangka baru dan kenaikan dividen, harganya naik ke sekitar US$88, tetapi masih diperdagangkan di bawah nilai nominal US$100. Moreno menilai diskon tersebut mencerminkan keinginan investor untuk melihat disiplin keuangan baru diterapkan secara berkelanjutan. Menurutnya, pasar ingin memastikan cadangan benar-benar menguat dan kebijakan disiplin itu dijaga sebelum melakukan penilaian ulang penuh terhadap sekuritas tersebut.
CryptoQuant menyoroti dua pertanyaan besar yang masih belum terjawab terkait strategi Bitcoin Strategy. Pertama, kapan perusahaan akan kembali membeli Bitcoin. Moreno menilai penghentian pembelian Bitcoin memang membantu menyelesaikan masalah likuiditas jangka pendek, tetapi kerangka baru belum memuat aturan berbasis model tentang kapan akumulasi harus dimulai lagi. Kebijakan penerbitan saham saat rasio mNAV mendekati 1 menjelaskan cara perusahaan menghimpun modal, tetapi tidak menjawab kapan modal itu seharusnya dialokasikan ke Bitcoin. Moreno memperingatkan, tanpa model yang jelas dan berfokus pada valuasi, perusahaan berisiko mengulang kebiasaan membeli Bitcoin di puncak lokal ketika kondisi pasar membaik.
Kedua, apakah Strategy akan menjual Bitcoin pada bull market berikutnya dan dengan aturan seperti apa. Moreno menyebut program pencairan Bitcoin saat ini bersifat defensif karena hasil penjualan dapat dipakai untuk dividen, bunga, dan buyback saham. Menurut CryptoQuant, rencana itu belum menawarkan strategi penjualan bertahap maupun lindung nilai ketika siklus pasar mendekati puncak. Moreno menilai kerangka penjualan seperti itu bisa membantu menurunkan beban utang, menciptakan nilai bagi pemegang saham, serta membangun cadangan kas untuk membeli kembali Bitcoin saat harga turun ke level lebih rendah. Ia menegaskan, pendekatan penjualan yang disiplin sepanjang siklus pasar "masih belum didefinisikan".
*Ini bukan nasihat investasi.*