Pasar aset kripto Korea Selatan alami "Kimchi premium" terbalik berkepanjangan
Ringkasan Pasar AI
"reverse Kimchi premium" yang berkepanjangan di Korea Selatan menandakan permintaan kripto domestik yang lebih lemah, dengan BTC dan ETH sering diperdagangkan di bawah harga luar negeri. Premium negatif yang persisten mengindikasikan rotasi modal ke saham, regulasi yang lebih ketat yang membatasi produk baru seperti derivatif, serta pajak kripto yang membayangi sehingga menurunkan selera risiko. Pola ini dapat menekan likuiditas dan arus lokal, serta dapat memperlebar dislokasi regional dalam penetapan harga spot dan volume bursa.
Level dampak
● Sedang
Aset terdampak
BTC/USDT-1.39%
Wawasan AI · BTC/USDTWawasan AI
▼ Bearish
Trade sekarang
⚠️ Wawasan yang dihasilkan AI didasarkan pada konten berita dan disediakan untuk tujuan informasi saja. Wawasan ini bukan nasihat investasi dan tidak mencerminkan pandangan BingX. Investasi melibatkan risiko. Harap trade secara bertanggung jawab.
Fenomena "reverse Kimchi premium" di pasar aset virtual Korea Selatan kian menonjol tahun ini, menurut Yonhap News. Data platform onchain CryptoQuant menunjukkan bahwa pada awal Agustus, rata-rata Kimchi premium Bitcoin berada di 0,48% dan Ethereum 0,49%, menandakan harga di bursa domestik lebih rendah dibandingkan bursa luar negeri.
Dari total 221 hari sepanjang tahun ini, Bitcoin tercatat mengalami reverse Kimchi premium pada 123 hari. Ini menjadi pertama kalinya sejak CryptoQuant mulai memantau metrik tersebut pada Juli 2020 jumlah hari dengan premium negatif melampaui hari dengan premium positif.
Rekor durasi juga baru terpecahkan. Pada periode 20 Juni hingga 24 Juli tahun ini, reverse premium terjadi selama 35 hari berturut-turut, melampaui rekor sebelumnya 23 hari.
Analis menilai ada tiga pendorong utama di balik pelebaran reverse Kimchi premium yang persisten. Pertama, penguatan pasar saham Korea Selatan menyerap arus dana investor yang sebelumnya masuk ke kripto. Kedua, pengetatan regulasi membatasi peluncuran layanan baru seperti derivatif sehingga menghambat masuknya dana baru. Ketiga, penerapan kebijakan pajak kripto yang akan datang turut menekan daya tarik investasi.