Kerangka Regulasi Kripto AS Masih Kabur usai CLARITY Act Gagal Lolos di Senat

Ringkasan Pasar AI
Kegagalan Senat AS untuk memajukan CLARITY Act membuat pasar tanpa kerangka spot-market SEC/CFTC yang jelas, mempertahankan fragmentasi regulasi dan ketidakpastian kepatuhan bagi bursa dan penerbit token. Sementara koordinasi SEC dan CFTC serta rulemaking yang sedang berlangsung dapat mengurangi sebagian ambiguitas, tidak adanya kewenangan statutori baru mempertahankan risiko penegakan dan yurisdiksi. Sentimen jangka dekat tertekan oleh volatilitas headline kebijakan yang tinggi.
Level dampak
● Tinggi
Aset terdampak
BTC/USDT+0.23%
Wawasan AI · BTC/USDTWawasan AI
▼ Bearish
Trade sekarang
⚠️ Wawasan yang dihasilkan AI didasarkan pada konten berita dan disediakan untuk tujuan informasi saja. Wawasan ini bukan nasihat investasi dan tidak mencerminkan pandangan BingX. Investasi melibatkan risiko. Harap trade secara bertanggung jawab.
Upaya Kongres AS untuk menjawab pertanyaan besar industri kripto—otoritas regulator mana mengawasi segmen pasar yang mana—belum membuahkan hasil. CLARITY Act terhenti di Senat pada 15 September setelah gagal mencapai ambang 60 suara untuk melaju, sehingga AS masih belum memiliki kerangka menyeluruh terkait struktur pasar seperti yang ditargetkan rancangan undang-undang tersebut. Kegagalan itu bukan berarti kripto tiba-tiba tanpa pengawasan. Securities and Exchange Commission (SEC) dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC) sudah berkoordinasi terkait aset digital sebelum pemungutan suara. Pada Maret, kedua lembaga menandatangani memorandum of understanding (MoU) SEC–CFTC untuk memperjelas definisi produk, memodernisasi aturan perdagangan, dan menyusun kerangka pengawasan kripto yang lebih terkoordinasi. Meski begitu, pengawasan kripto di AS tetap terpecah di beberapa regulator. Pemisahan SEC vs. CFTC Tetap Jadi Garis Utama SEC tetap bertugas menerapkan hukum sekuritas federal ketika suatu aset kripto, penawaran token, atau transaksi masuk dalam ranah aturan sekuritas. Awal tahun ini, SEC merilis panduan baru yang mencakup sejumlah isu, termasuk staking, mining, airdrops, serta kondisi ketika aset kripto non-sekuritas dapat menjadi bagian dari investment contract. CFTC menyatakan sejalan dengan interpretasi tersebut dan akan menjalankan Commodity Exchange Act secara konsisten. Di sisi lain, CFTC sudah mengawasi futures, opsi, dan derivatif kripto lainnya. Kewenangannya di pasar spot lebih terbatas. Untuk komoditas non-sekuritas seperti Bitcoin, CFTC dapat menindak penipuan dan manipulasi, tetapi Kongres belum memberikan rezim pendaftaran yang komprehensif bagi bursa kripto spot seperti yang berlaku pada pasar derivatif. Celah yurisdiksi inilah yang ingin ditutup CLARITY Act. Coinpaper sebelumnya mengulas pemisahan kewenangan SEC versus CFTC, sementara kegagalan voting di Senat mendorong Bitcoin turun ke bawah US$75.000. Regulator Melaju Tanpa Menunggu Kongres Perkembangan penting berikutnya: lembaga federal tetap bergerak menggunakan mandat yang ada. CFTC telah mengajukan proposal rulemaking baru untuk pasar kripto ke tahap peninjauan regulasi Gedung Putih, sinyal bahwa lembaga itu berniat memaksimalkan kewenangannya meski tanpa CLARITY Act. Ruang lingkup aturan menjadi krusial karena regulator tidak bisa menciptakan kekuasaan baru yang tidak pernah diberikan Kongres. Stablecoin memiliki perlakuan yang agak berbeda karena Kongres sudah mengesahkan GENIUS Act, yang membentuk kerangka federal tersendiri untuk payment stablecoins. Di luar itu, pelaku usaha kripto juga dapat menghadapi kewajiban anti-pencucian uang (AML) dari FinCEN, pengawasan perbankan, serta persyaratan perizinan di tingkat negara bagian.