Transaksi Kripto P2P di China Melejit 43 Kali Meski Dilarang

Ringkasan Pasar AI
Data Chainalysis yang menunjukkan lonjakan 43x dalam perputaran P2P stablecoin di kalangan pengguna Tiongkok meski ada larangan ketat menandakan penggunaan kripto akar rumput yang tangguh dan berkembang, serta permintaan mobilitas modal yang tetap bertahan. Pertumbuhan yang terkonsentrasi pada transfer bernilai kecil mengindikasikan pembayaran dan remitansi, yang diperkuat oleh pengawasan social-credit yang lebih ketat. Kontribusi berkelanjutan yang terkait Tiongkok terhadap hashrate Bitcoin global menegaskan keterlibatan jaringan yang terus berlanjut melalui hub lepas pantai, mendukung likuiditas kripto yang lebih luas serta infrastruktur.
Level dampak
● Sedang
Aset terdampak
BTC/USDT-1.77%
Wawasan AI · BTC/USDTWawasan AI
▲ Bullish
Trade sekarang
⚠️ Wawasan yang dihasilkan AI didasarkan pada konten berita dan disediakan untuk tujuan informasi saja. Wawasan ini bukan nasihat investasi dan tidak mencerminkan pandangan BingX. Investasi melibatkan risiko. Harap trade secara bertanggung jawab.
Studi terbaru menunjukkan aktivitas transaksi kripto peer-to-peer (P2P) di kalangan pengguna China meningkat 3,5 kali dalam setahun terakhir, meski larangan kripto di negara itu terus diperketat. Menurut perusahaan intelijen blockchain Chainalysis, kanal P2P dimanfaatkan sebagai jalur alternatif di tengah pembatasan ketat terhadap layanan kripto terpusat. Dalam dua tahun terakhir, pengguna China tercatat memindahkan lebih dari US$176 miliar transaksi kripto. Pendorong utamanya adalah lonjakan 43 kali pada perputaran stablecoin dari Q1 2024 hingga Q2 2026, yang berlangsung melalui platform informal, pasar bawah tanah, serta kanal over-the-counter (OTC). Chainalysis juga mencatat, mulai Maret 2025 volume transaksi bernilai kecil melonjak tajam. Transaksi di bawah US$100 naik 996%, transaksi US$100–US$1.000 meningkat 1.057%, sementara transaksi US$1.000–US$10.000 bertambah 1.321%. Pada periode yang sama, analis merekam 18,1 juta transaksi stablecoin P2P dengan total nilai US$104,1 miliar. Secara tahunan, perputaran stablecoin di China mencapai 33,2 kali, jauh di atas rata-rata global 9,3 kali. Pola ini mengindikasikan stablecoin di China lebih banyak dipakai sebagai alat pembayaran ketimbang aset simpanan. Minat terhadap stablecoin turut menguat setelah perluasan sistem social credit pada 2025, yakni inisiatif pemantauan tingkat "kepercayaan" individu dan entitas. Stablecoin dinilai bisa menghindari pengawasan pemerintah tersebut, sekaligus kendala pada sistem keuangan tradisional. Sumber: Chainalysis Di sisi lain, meski penambangan kripto masih dilarang, entitas penambangan yang terkait China diperkirakan masih menyumbang 15% dari hashrate Bitcoin global. Mayoritas fasilitas penambangan beroperasi di luar yurisdiksi China, termasuk di Afrika, Asia Tengah, dan Amerika Latin. Dalam gambaran regional, dibandingkan Jepang, Hong Kong, Singapura, dan Korea Selatan, aktivitas kripto di China lebih terkonsentrasi pada stablecoin, sementara negara-negara lain menitikberatkan pada penguatan regulasi kripto. Terkait aspek regulasi, otoritas China baru-baru ini melarang individu maupun perusahaan menerbitkan yuan digital tanpa izin.