CFTC Gugat Goliath atas Dugaan Skema Ponzi Kripto US$397 Juta

Ringkasan Pasar AI
Gugatan CFTC yang menuduh adanya skema Ponzi kripto senilai $397 juta di Goliath Ventures, bersamaan dengan pengakuan bersalah CEO di pengadilan federal, menegaskan kembali risiko penegakan hukum di seluruh produk investasi kripto yang dipasarkan sebagai imbal hasil atau strategi "liquidity pool". Klaim bahwa BTC dan ETH milik pelanggan tidak pernah sampai ke venue sebagaimana dijanjikan dapat meningkatkan pengawasan terhadap risiko pihak lawan dan uji tuntas, yang berpotensi menekan selera risiko dalam jangka dekat dan meningkatkan beban kepatuhan bagi platform serupa.
Level dampak
● Sedang
Aset terdampak
BTC/USDT-0.55%
Wawasan AI · BTC/USDTWawasan AI
▼ Bearish
Trade sekarang
⚠️ Wawasan yang dihasilkan AI didasarkan pada konten berita dan disediakan untuk tujuan informasi saja. Wawasan ini bukan nasihat investasi dan tidak mencerminkan pandangan BingX. Investasi melibatkan risiko. Harap trade secara bertanggung jawab.
Commodity Futures Trading Commission (CFTC) menggugat Goliath Ventures dan CEO-nya, Christopher Delgado, atas dugaan menjalankan skema Ponzi berbasis aset kripto yang menghimpun hampir US$397 juta dari sekitar 1.611 nasabah. Gugatan perdata ini menyusul perkara pidana terpisah, di mana pada Juni Delgado telah mengaku bersalah atas dakwaan federal. Menurut CFTC, Goliath menyatakan kepada investor bahwa imbal hasil berasal dari pengelolaan "liquidity pools" kripto. Kenyataannya, dana nasabah diduga dipakai untuk membayar nasabah lain, membayar komisi, serta menutup pengeluaran pribadi. CFTC menyebut Goliath menerima Bitcoin, Ether, dan kripto lain pada periode November 2022 hingga Februari 2026. Perusahaan juga menjanjikan aset klien ditempatkan ke liquidity pools di bursa terdesentralisasi untuk memperoleh fee, lalu pendapatan dibagikan kepada investor. Dalam materi pemasaran, Goliath mengiklankan potensi imbal hasil hingga 3% per bulan (setara 36% per tahun). Sejumlah perjanjian bahkan mencantumkan jaminan pengembalian modal ditambah keuntungan hingga 5% per bulan. Regulator menegaskan dana nasabah tidak pernah masuk ke liquidity pools. Sekitar US$87 juta disebut digunakan untuk membayar nasabah yang lebih dulu, sementara US$174 juta mengalir ke direksi dan karyawan, termasuk sebagai komisi untuk merekrut nasabah baru. CFTC menyatakan setidaknya US$48 juta di antaranya disedot Delgado untuk kepentingan pribadi. CFTC juga menuding Goliath mengedarkan laporan audit palsu guna menenangkan nasabah. Salah satu "audit" yang dikutip dalam gugatan menyatakan Goliath "menjaga saldo rata-rata setidaknya 115% dari dana mitra setiap saat". CFTC menyatakan klaim tersebut tidak benar. Laporan rekening yang diterima nasabah juga disebut menampilkan keuntungan yang tidak pernah dihasilkan. Dalam dokumen gugatan, pengeluaran Delgado antara lain diduga mencakup US$838.000 untuk sebuah kapal pesiar, properti, mobil, dan perhiasan. Pengeluaran kartu korporasi juga diklaim mencapai US$4,9 juta untuk perjalanan dan US$2,9 juta untuk barang mewah serta layanan concierge. Pada 17 Februari, Delgado diduga mengarahkan para direktur agar tidak menanggapi permintaan pembaruan status dari nasabah, dengan menyatakan Goliath "menghentikan seluruh operasi". Pada 30 Juni, Delgado mengaku bersalah atas konspirasi melakukan wire fraud, wire fraud, dan pencucian uang. Departemen Kehakiman juga mengupayakan penyitaan tujuh properti dan 11 kendaraan yang disebut dibeli dari hasil kejahatan. Goliath berhenti beroperasi sepenuhnya pada Februari dan mengajukan kebangkrutan pada Maret. Dalam perkara perdata, CFTC menuntut restitusi, disgorgement, denda perdata, serta larangan permanen untuk berdagang dan melakukan registrasi. Ringkasnya, CFTC menilai meski Goliath menghimpun setidaknya hampir US$397 juta, tidak ada dana klien yang diinvestasikan sebagaimana dijanjikan. Perkara pidana Delgado telah berujung pada pengakuan bersalah, sementara gugatan perdata CFTC berjalan terpisah di pengadilan.