Harga minyak mentah global naik seiring lalu lintas kapal di Selat Hormuz turun ke level terendah dalam tiga minggu

Ringkasan Pasar AI
Harga minyak mentah naik karena lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz turun ke level terendah dalam hampir tiga minggu, meningkatkan risiko gangguan pasokan di tengah tingginya kekhawatiran keamanan regional dan asuransi. Peningkatan penggunaan rute utara Iran menandakan perubahan perilaku pelayaran, sementara risiko seputar potensi gangguan di Laut Merah menambahkan titik sempit sekunder. Dengan persediaan rendah dan pelepasan SPR sebagian besar telah habis, pasar tampak lebih sensitif terhadap eskalasi geopolitik lebih lanjut.
Level dampak
● Tinggi
Aset terdampak
NCCO1OILBRENT2USD/USDT+2.98%
Wawasan AI · NCCO1OILBRENT2USD/USDTWawasan AI
▲ Bullish
Trade sekarang
⚠️ Wawasan yang dihasilkan AI didasarkan pada konten berita dan disediakan untuk tujuan informasi saja. Wawasan ini bukan nasihat investasi dan tidak mencerminkan pandangan BingX. Investasi melibatkan risiko. Harap trade secara bertanggung jawab.
BlockBeats melaporkan, pada 18 Juli harga minyak mentah internasional melanjutkan penguatan. Brent naik ke US$86,75 dan WTI mencapai US$82,33, setelah sebelumnya sempat turun mendekati kisaran US$70. Data perusahaan layanan pasar internasional Kpler yang dirilis pada 17 Juli menunjukkan arus kapal melalui Selat Hormuz kembali melemah pada 16 Juli. Jumlah kapal yang terkonfirmasi melintas turun menjadi delapan unit, terendah dalam hampir tiga minggu. Kpler mencatat, tujuh dari delapan kapal pada hari itu memilih rute utara di sisi Iran. Pola ini menandakan lalu lintas pelayaran semakin terkonsentrasi di jalur tersebut, seiring perusahaan menilai ulang kondisi keamanan kawasan, keselamatan kru, serta risiko asuransi. Kontrak berjangka minyak mentah juga membukukan kenaikan dua digit sepanjang pekan ini. Kekhawatiran pasar turut dipicu potensi langkah kelompok Houthi di Yaman untuk mengganggu pelayaran di Laut Merah. Jika Selat Hormuz sampai ditutup, Arab Saudi selama ini mengalihkan ekspor minyaknya melalui Laut Merah. Analis Barclays Amarpreet Singh menulis, persediaan yang berada di level terendah dalam beberapa tahun dan pelepasan cadangan minyak strategis yang sebagian besar sudah rampung membuat tensi di sekitar "garis merah" Selat kembali memanas. Kondisi ini dinilai menciptakan risiko kenaikan signifikan bagi harga energi. Ia menambahkan, pasar minyak saat ini masih terlalu tenang dalam menilai potensi dampaknya terhadap persediaan.