Emas dan Bitcoin Turun di Tengah Inflasi AS 5,4% dan Kenaikan Imbal Hasil

Ringkasan Pasar AI
PPI AS yang lebih panas dari perkiraan (5,4% YoY) mendorong imbal hasil 10Y menuju ~4,9% dan meningkatkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September, sehingga membebani aset yang tidak menghasilkan imbal hasil. Baik Bitcoin maupun emas turun karena ekspektasi suku bunga riil yang lebih tinggi meningkatkan daya tarik relatif obligasi Treasury. Arus masuk ETF emas yang mencapai rekor menegaskan positioning institusional yang kuat, tetapi sesi ini menunjukkan arus dapat dikalahkan oleh repricing suku bunga yang cepat; CPI yang akan datang menjadi katalis berikutnya.
Level dampak
● Tinggi
Aset terdampak
BTC/USDT-1.62%
Wawasan AI · BTC/USDTWawasan AI
▼ Bearish
Trade sekarang
⚠️ Wawasan yang dihasilkan AI didasarkan pada konten berita dan disediakan untuk tujuan informasi saja. Wawasan ini bukan nasihat investasi dan tidak mencerminkan pandangan BingX. Investasi melibatkan risiko. Harap trade secara bertanggung jawab.
Emas dan Bitcoin melemah pada Kamis setelah data inflasi AS yang lebih panas dari perkiraan mendorong imbal hasil Treasury naik dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve. Kondisi ini berseberangan dengan catatan permintaan institusional terhadap bullion yang baru saja mencetak rekor. Harga emas spot turun lebih dari 1% ke area US$4.358 per ons. Bitcoin ikut melemah seiring investor menjauh dari aset yang tidak memberikan imbal hasil. Data menunjukkan indeks harga produsen (PPI) Agustus naik 0,4% secara bulanan dan 5,4% secara tahunan, sedikit di atas konsensus 5,3% yoy. Reaksi pasar terutama dipicu pergerakan suku bunga: imbal hasil Treasury tenor 10 tahun bergerak di sekitar 4,9%. Pelaku pasar juga menaikkan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September menjadi sekitar 70%, dari sekitar 62% sebelum rilis PPI. Rekor Permintaan ETF Bertemu Guncangan Suku Bunga Pelemahan emas menjadi sorotan karena permintaan institusional baru saja mencatat salah satu bulan terkuat sepanjang sejarah. Data Agustus dari World Gold Council menunjukkan ETF emas global membukukan arus masuk US$18 miliar, menjadi inflow bulanan terbesar kedua sepanjang masa. Kepemilikan meningkat 121 ton menjadi rekor 4.189 ton, sementara aset kelolaan melonjak 16% menjadi US$615 miliar. Eropa memimpin dengan inflow US$7,9 miliar, diikuti Amerika Utara yang menambah US$7,7 miliar. Angka ini menguatkan narasi permintaan institusional emas dalam jangka panjang. Meski begitu, perdagangan Kamis menegaskan bahwa derasnya pembelian ETF belum tentu mampu sepenuhnya menahan lonjakan mendadak pada real yield dan ekspektasi kenaikan suku bunga. Dalam beberapa waktu terakhir, investor yang mengejar eksposur bullion semakin mengandalkan ETF emas sebagai alternatif yang likuid dibandingkan kepemilikan fisik, sehingga arus ETF menjadi indikator penting posisi institusional. Bitcoin dan Emas Menghadapi Masalah yang Sama: Imbal Hasil Penurunan Bitcoin menegaskan hubungan jangka pendek yang kian terlihat antara kedua aset. Baik Bitcoin maupun emas tidak menghasilkan yield. Saat imbal hasil Treasury mendekati 5%, obligasi pemerintah menjadi lebih menarik dibandingkan keduanya. Pergerakan ini terjadi hanya beberapa hari setelah rasio Bitcoin-emas berada di sekitar 18, seiring Bitcoin jauh mengungguli emas selama sebulan terakhir. Minyak menambah sumber tekanan lain. Brent menembus US$100 di tengah meningkatnya risiko pasokan di Timur Tengah, yang langsung memanaskan kembali kekhawatiran inflasi. Ulasan terbaru Coinpaper tentang penembusan US$100 menunjukkan seberapa cepat harga minyak pulih dari level terendah Juli di sekitar US$72. Ujian berikutnya datang dari rilis data CPI AS pada Jumat. Untuk emas, pertanyaan kuncinya adalah apakah permintaan ETF yang mencetak rekor dapat kembali menjadi penopang setelah guncangan suku bunga mereda. Untuk Bitcoin, angka inflasi yang kembali tinggi berpotensi mempertahankan tekanan pada aset berisiko dan memperkuat daya tarik kompetitif imbal hasil Treasury yang mendekati 5%.