CLARITY Act Ingin Angkat Kerangka Regulasi Kripto Wyoming Jadi Standar Nasional AS

Senator Cynthia Lummis mendorong agar Amerika Serikat mengadopsi model regulasi aset digital ala Wyoming. Politikus Partai Republik itu menyatakan Digital Asset Market Clarity Act atau CLARITY Act akan memperluas kerangka aturan kripto yang selama ini diterapkan Wyoming ke level federal, dengan tujuan menghadirkan satu buku aturan yang seragam bagi industri. RUU ini lolos di DPR pada Juli 2025 dengan hasil suara 294–134 dan kini menunggu pembahasan di Senat. Pemungutan suara prosedural cloture dijadwalkan pada 15 September, menempatkannya pada agenda yang ketat menjelang pemilu paruh waktu. Isi utama RUU CLARITY Act setebal 616 halaman, tetapi mandat utamanya jelas: mendefinisikan kategori aset digital dan menetapkan otoritas pengawasnya. RUU ini memecah aset digital ke dalam sejumlah kategori, dengan penekanan pada "ancillary assets" dan "digital commodities". Klasifikasi ini menentukan apakah pengawasan berada di bawah SEC atau CFTC, mengakhiri tarik-menarik yurisdiksi yang selama bertahun-tahun membuat perusahaan kripto sulit memastikan aturan mana yang berlaku. Untuk "ancillary assets", RUU mewajibkan pemenuhan ketentuan pengungkapan ala SEC. Ada batasan (guardrails) berupa plafon pengungkapan tahunan sebesar $50 juta atau 10% dari nilai beredar, serta batas kumulatif seumur hidup sebesar $200 juta. Bagian 701 menyoroti isu yang mengemuka saat gelombang kolaps bursa kripto pada 2022. Pasal ini menegaskan bahwa aset digital yang disimpan atas nama nasabah diklasifikasikan sebagai properti nasabah dalam kepailitan Chapter 7. Artinya, bila sebuah bursa bangkrut, aset kripto pelanggan diperlakukan sebagai milik pelanggan dalam proses hukum, bukan sebagai bagian dari harta pailit perusahaan yang diperebutkan para kreditur. RUU juga memasukkan perlindungan tanggung jawab (liability shield) bagi pengembang non-kustodial, agar mereka tidak dikategorikan sebagai pengirim uang (money transmitter). Pengembang yang menulis kode sumber terbuka untuk protokol terdesentralisasi tanpa pernah menyentuh dana pengguna tidak akan dibebani kewajiban kepatuhan seperti bursa tersentralisasi. Koneksi Wyoming Wyoming sejak lama memposisikan diri sebagai negara bagian paling ramah kripto di AS. Sejak 2018, Wyoming meloloskan lebih dari dua lusin undang-undang terkait blockchain, membentuk special-purpose depository institutions untuk aset digital, mengecualikan token tertentu dari regulasi sekuritas, serta menghadirkan definisi yang sebelumnya belum jelas di banyak wilayah lain. Lummis, senator dari Wyoming sejak 2021, konsisten mendorong ekspor kerangka tersebut ke tingkat nasional. CLARITY Act dibangun dari kerja bipartisan sebelumnya bersama Senator Kirsten Gillibrand, Demokrat dari New York. RUU mereka pada 2022, Responsible Financial Innovation Act, menjadi fondasi gagasan bagi naskah saat ini meski tidak pernah dibawa ke pemungutan suara. Naskah yang ada sekarang memuat ketentuan yang memperketat pembatasan penjualan kembali oleh orang dalam serta menambah persyaratan transparansi—konsesi yang dinilai membantu meloloskannya di DPR dengan dukungan bipartisan yang kuat. RUU juga mengalokasikan tambahan dana $150 juta untuk FinCEN dan lembaga penegakan terkait. Lummis membingkai RUU ini sebagai langkah perlindungan konsumen. Menurutnya, ketidakjelasan regulasi justru membuat pasar kurang aman karena perusahaan yang patuh kesulitan membangun praktik kepatuhan yang konsisten. Hambatan di Senat Tantangan utamanya adalah meloloskan Senat. Pemungutan suara cloture pada 15 September akan menjadi indikator apakah dukungan cukup untuk melewati hambatan prosedural. Dengan pemilu paruh waktu yang kian dekat, ruang waktu untuk pembahasan di lantai Senat menyusut. Sejumlah kritikus menyoroti luasnya ketentuan penegakan, terutama potensi dampaknya terhadap platform keuangan terdesentralisasi (DeFi). Meski perlindungan bagi pengembang non-kustodial tergolong longgar, peningkatan persyaratan pengawasan untuk bursa dan platform DeFi berisiko memunculkan biaya kepatuhan yang signifikan. Dampak pasar yang perlu dicermati Perlindungan kepailitan saja berpotensi mengubah cara investor institusional menilai risiko rekanan (counterparty risk) di kripto. Salah satu bekas luka terbesar dari kolaps FTX adalah kesadaran bahwa aset nasabah di platform tersentralisasi berada dalam area abu-abu secara hukum. Bagian 701 ditujukan langsung untuk menutup kerentanan tersebut. Tambahan pendanaan FinCEN sebesar $150 juta juga patut diperhatikan. Ini mengindikasikan aktivitas penegakan hukum di ranah aset digital berpotensi meningkat, terlepas dari apakah kerangka regulasi yang lebih luas nantinya dianggap lebih ramah terhadap inovasi.